Stres

Batas Sehat antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Menetapkan batas bukan soal menolak pekerjaan, tapi soal memutuskan lebih awal apa yang mau dilindungi.

Eka NurhalizaM.Psi., Psikolog
24 Jun 20262 min read

Batas sering dibayangkan sebagai penolakan: mengatakan tidak, menutup laptop, mematikan notifikasi. Padahal bagian yang paling menentukan terjadi jauh sebelum itu, yaitu ketika seseorang memutuskan hal apa dalam hidupnya yang tidak boleh diambil oleh pekerjaan.

Batas yang tidak diputuskan akan diputuskan orang lain

Kalau tidak ada yang ditetapkan lebih dulu, yang mengisi waktu adalah apa pun yang paling mendesak saat itu. Pekerjaan hampir selalu memenangkan perbandingan itu karena tenggatnya jelas dan akibatnya terlihat, sementara makan malam bersama keluarga tidak pernah mengirim pengingat.

  • Tentukan satu hal yang dilindungi, bukan sepuluh. Satu batas yang dijaga konsisten lebih berpengaruh daripada daftar panjang yang runtuh pada minggu kedua.
  • Sampaikan batasnya sebagai informasi, bukan permintaan izin. “Saya tidak online setelah jam sembilan” lebih mudah dihormati daripada “boleh tidak kalau saya tidak online?”.
  • Siapkan satu kalimat cadangan untuk permintaan mendadak, supaya kamu tidak perlu menyusun jawaban dalam keadaan tertekan.
  • Perkirakan reaksi awal yang kurang enak. Batas baru hampir selalu terasa mengganggu pada awalnya, dan itu bukan tanda batasnya salah.

Batas bukan cara menghindari pekerjaan. Batas adalah cara memastikan masih ada sesuatu yang tersisa ketika pekerjaan sedang berat.

Eka Nurhaliza, M.Psi., Psikolog

Perlu dikatakan jujur bahwa tidak semua orang punya ruang yang sama untuk menetapkan batas. Pekerjaan dengan jam yang tidak bisa ditawar atau atasan yang tidak menerima penolakan membuat sebagian saran di atas sulit dijalankan. Dalam keadaan seperti itu, yang paling masuk akal biasanya bukan memaksakan batas, melainkan membicarakan bebannya secara terbuka dengan orang yang punya wewenang mengubahnya.

Tulisan ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh psikolog atau psikiater. Kalau keluhan yang kamu rasakan sudah mengganggu kegiatan sehari-hari, pertimbangkan membicarakannya dengan profesional.

Written and reviewed by

Author

Eka Nurhaliza

M.Psi., Psikolog

View profile