Hubungan

Bicara soal Kesehatan Mental dengan Orang Tua

Beda generasi bikin istilahnya tidak nyambung. Kadang yang perlu diubah bukan isinya, tapi cara masuknya.

Gita MaheswariM.Psi., Psikolog
15 Jun 20262 min read

Percakapan ini sering gagal bukan karena orang tua tidak peduli, melainkan karena kata-kata yang dipakai tidak punya arti yang sama di kedua sisi. Istilah seperti terapi atau kesehatan mental bisa terdengar sebagai kabar bahwa ada sesuatu yang sangat serius, sedangkan yang dimaksud anaknya jauh lebih sederhana.

Mulai dari keluhan, bukan dari istilah

Bahasa yang paling mudah diterima biasanya bahasa keseharian: susah tidur, gampang marah, tidak nafsu makan, tidak bisa konsentrasi di kantor. Keluhan seperti itu tidak menuntut pendengarnya menerima satu kerangka berpikir tertentu lebih dulu, dan karena itu tidak langsung memicu bantahan.

  • Pilih waktu yang tenang dan bukan di tengah perselisihan, supaya isi pembicaraan tidak terbaca sebagai bagian dari pertengkaran.
  • Ceritakan pengaruhnya pada hal yang mereka lihat sendiri, misalnya pekerjaan atau kesehatan fisik.
  • Kalau perlu, pakai perbandingan dengan pemeriksaan kesehatan biasa. Banyak orang lebih mudah menerima gagasan memeriksakan diri daripada gagasan berobat jiwa.
  • Jangan menuntut mereka langsung mengerti. Percakapan pertama yang berhasil biasanya percakapan yang tidak berakhir dengan penolakan, bukan yang berakhir dengan persetujuan.

Sering kali yang ditolak orang tua bukan pertolongannya, melainkan kesan bahwa mereka gagal sebagai orang tua. Kalau kesan itu bisa dihindari, percakapannya jadi jauh lebih mudah.

Gita Maheswari, M.Psi., Psikolog

Kalau penolakannya tetap keras

Ada keluarga yang butuh waktu lama, dan ada yang tidak pernah benar-benar menerima. Kalau itu yang terjadi, keputusan untuk mencari bantuan tetap boleh diambil tanpa restu, terutama bagi orang dewasa yang mampu memutuskan sendiri. Persetujuan keluarga membuat prosesnya lebih ringan, tetapi ketiadaannya bukan alasan untuk menunda.

Dalam keadaan itu, mencari satu orang pendukung lain sering lebih berguna daripada terus meyakinkan pihak yang menolak. Saudara, pasangan, atau teman dekat yang bersedia menemani biasanya cukup untuk membuat langkah pertama terasa mungkin.

Tulisan ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh psikolog atau psikiater. Kalau keluhan yang kamu rasakan sudah mengganggu kegiatan sehari-hari, pertimbangkan membicarakannya dengan profesional.

Written and reviewed by

Author

Gita Maheswari

M.Psi., Psikolog

View profile

Reviewer

Anindita Rahmawati

M.Psi., Psikolog

Reviewed 12 Jun 2026

View profile