Duka Cita

Menemani Orang Terdekat yang Sedang Berduka

Tidak ada kalimat ajaib yang menyembuhkan duka. Yang biasanya paling menolong justru kehadiran yang tidak menuntut apa-apa.

Dian PuspitasariS.Psi., Konselor
3 Jul 20262 min read

Orang yang ingin menemani seseorang yang berduka hampir selalu bertanya hal yang sama: harus bilang apa. Pertanyaan itu wajar, tetapi biasanya salah sasaran. Yang paling diingat orang yang berduka umumnya bukan kalimat yang diucapkan, melainkan siapa yang muncul dan siapa yang menghilang.

Kalimat yang niatnya baik tetapi sering terasa menutup

Sebagian kalimat penghiburan sebenarnya berfungsi menenangkan si pengucap, bukan yang mendengar. Ciri umumnya adalah kalimat itu buru-buru mencari sisi baik atau menutup pembicaraan dengan penjelasan.

  • Kalimat yang membandingkan kehilangan dengan kehilangan orang lain, karena membuat dukanya terasa harus diukur dulu sebelum boleh dirasakan.
  • Kalimat yang menyodorkan hikmah terlalu dini, sementara yang bersangkutan bahkan belum selesai menerima kenyataannya.
  • Kalimat yang menyuruh kuat atau mengingatkan ada orang lain yang perlu dijaga, yang terdengar seperti larangan untuk sedih.
  • Tawaran umum semacam “kabari kalau butuh apa-apa”, yang memindahkan beban meminta tolong kepada orang yang sedang paling tidak sanggup memintanya.

Kehadiran yang tidak menuntut apa-apa hampir selalu lebih menolong daripada kalimat yang paling tepat sekalipun.

Dian Puspitasari, S.Psi., Konselor

Yang biasanya benar-benar menolong

  1. Tawarkan bantuan yang konkret dan sudah kamu putuskan sendiri, misalnya mengantar anaknya sekolah hari Rabu, bukan menawarkan bantuan secara umum.
  2. Sebut nama orang yang meninggal. Banyak orang berduka justru kesepian karena semua orang di sekitarnya menghindari nama itu.
  3. Bersedia mendengar cerita yang sama berulang kali. Pengulangan adalah bagian dari cara orang mencerna kehilangan, bukan tanda dia tidak maju.
  4. Ingat tanggal-tanggal sulitnya dan muncul pada saat itu. Perhatian bulan keenam biasanya lebih berkesan daripada perhatian minggu pertama.

Duka tidak punya jadwal yang seragam, dan naik turunnya adalah hal yang wajar. Tetapi kalau setelah waktu yang panjang orang yang kamu temani masih tidak bisa menjalani hari-harinya, menarik diri sepenuhnya, atau kamu mendengar hal yang membuatmu khawatir akan keselamatannya, dorong dia menemui profesional dan tawarkan untuk menemani pada pertemuan pertama.

Tulisan ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh psikolog atau psikiater. Kalau keluhan yang kamu rasakan sudah mengganggu kegiatan sehari-hari, pertimbangkan membicarakannya dengan profesional.

Written and reviewed by

Author

Dian Puspitasari

S.Psi., Konselor

View profile

Reviewer

Gita Maheswari

M.Psi., Psikolog

Reviewed 30 Jun 2026

View profile