Trauma

Trauma Tidak Selalu Berwujud Kenangan Besar

Peristiwa yang terlihat kecil dari luar bisa meninggalkan jejak panjang. Ukurannya bukan seberapa besar kejadiannya.

Intan LarasatiM.Psi., Psikolog
28 May 20263 min read

Salah satu kalimat yang paling sering menghalangi orang mencari bantuan adalah penilaian bahwa yang dialaminya belum cukup berat. Ukuran yang dipakai biasanya besarnya peristiwa dari luar, padahal yang menentukan jejaknya adalah bagaimana peristiwa itu dialami dan apa yang tersedia bagi orang tersebut setelahnya.

Yang menentukan bukan besarnya kejadian

Dua orang bisa mengalami hal yang sama dan keluar dengan akibat yang sangat berbeda. Beberapa hal yang biasanya berpengaruh adalah seberapa tidak berdaya seseorang merasa saat itu, apakah ada orang yang menolong sesudahnya, apakah dia dipercaya ketika bercerita, dan apakah keadaan itu berulang atau berhenti.

Karena itu peristiwa yang dari luar terlihat sedang saja bisa meninggalkan jejak panjang, terutama kalau terjadi berulang dalam waktu lama, dilakukan oleh orang yang seharusnya melindungi, atau berlangsung ketika seseorang masih terlalu kecil untuk memahaminya.

Bentuknya sering tidak berupa ingatan

  • Reaksi tubuh yang muncul lebih dulu daripada pikirannya: jantung berdebar atau perut mual pada situasi tertentu tanpa alasan yang jelas.
  • Kewaspadaan yang tidak pernah turun, misalnya selalu memeriksa jalan keluar atau sulit membelakangi pintu.
  • Kekosongan atau rasa berjarak dari keadaan sekitar, seolah sedang menonton dan bukan menjalani.
  • Penghindaran yang perlahan meluas, dari satu tempat menjadi satu jenis situasi, lalu menjadi banyak hal sekaligus.
  • Ingatan yang justru kabur atau terputus-putus, yang sering keliru dianggap sebagai bukti bahwa kejadiannya tidak berarti.

Pertanyaan yang lebih berguna bukan “apakah ini cukup berat untuk disebut trauma”, melainkan “apakah ini masih memengaruhi cara saya menjalani hari ini”.

Intan Larasati, M.Psi., Psikolog

Kenapa menceritakan ulang saja tidak selalu menolong

Ada anggapan bahwa menyembuhkan trauma berarti menceritakan kembali kejadiannya sedetail mungkin. Dalam praktiknya, menceritakan ulang tanpa persiapan dan tanpa pendampingan bisa membuat seseorang kembali kewalahan tanpa mendapat apa pun sebagai gantinya.

Karena itu penanganan trauma umumnya dimulai dari hal yang tampak tidak berhubungan: membangun rasa aman, mengenali tanda tubuh yang mulai kewalahan, dan menemukan cara menurunkannya. Bagian yang menyangkut peristiwanya baru dikerjakan setelah dasar itu ada.

Langkah pertama yang masuk akal

  1. Berhenti mengukur apakah pengalamanmu layak disebut trauma. Ukuran itu tidak menolong dan sering hanya menunda.
  2. Perhatikan situasi yang membuat reaksimu jauh lebih besar daripada keadaannya. Pola itu biasanya lebih informatif daripada isi ingatan.
  3. Cari profesional yang menyebutkan penanganan trauma sebagai bidang kerjanya, dan tanyakan cara kerjanya pada pertemuan pertama.
  4. Jangan memaksakan diri menceritakan seluruhnya sekaligus. Kamu berhak mengatur kecepatannya.

Kalau ingatan atau reaksi itu datang begitu kuat sampai mengganggu keselamatanmu atau kemampuanmu menjalani hari, jangan menunggu sampai merasa cukup siap. Bawa ke psikolog atau psikiater dan mulailah dari keadaan hari ini, bukan dari peristiwanya.

Tulisan ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh psikolog atau psikiater. Kalau keluhan yang kamu rasakan sudah mengganggu kegiatan sehari-hari, pertimbangkan membicarakannya dengan profesional.

Written and reviewed by

Author

Intan Larasati

M.Psi., Psikolog

View profile

Reviewer

Fajar Ramadhan

dr., Sp.KJ

Reviewed 25 May 2026

View profile